Sebelas Januari (Cerpen Spesial)
Tujuh detik sebelum napas terakhir itu datang, waktu tiba-tiba berjalan lambat.
Aku mendengar suara gaduh di sekelilingku, samar dan jauh, seperti datang dari lorong panjang yang gelap. Tubuhku terbaring di lantai dingin, sementara dadaku terasa sesak oleh sesuatu yang tak mampu dijelaskan.
Seseorang memanggil namaku.
Namun aku tidak lagi mampu menjawab.
Pandangan mataku mulai kabur. Langit-langit ruangan tampak berputar perlahan. Nafasku tercekat, dan untuk pertama kalinya dalam hidup, aku benar-benar merasa takut kehilangan dunia.
Lalu kenangan datang satu per satu.
Aku kembali melihat diriku yang dulu, seorang anak kampung dengan semangat besar untuk belajar. Hari ketika Ayah dan Ibu mengantarkanku ke madrasah tsanawiyah masih begitu jelas di kepala.
Ibu berkali-kali mengusap mataku yang sebenarnya tidak menangis.
Ayah hanya diam sambil memegangi pundakku.
Sedangkan adikku kecil merengek keras sambil menarik lenganku.
“Jangan pergi lama-lama.”
Aku tertawa kecil saat itu.
Aku bilang aku pasti pulang. Aku bilang suatu hari nanti dia juga akan menyusul sekolah di sana.
Dan benar saja. Ia tumbuh lebih pintar dariku.
Kenangan itu membuat dadaku hangat, meski tubuhku perlahan membeku.
Aku memang selalu menyukai tempat-tempat belajar. Bagiku sekolah bukan sekadar ruang kelas dan tumpukan kitab. Di sana aku menemukan banyak hal: teman, perjuangan, mimpi, dan arti bertahan hidup jauh dari rumah.
Saat aliyah, aku pergi lebih jauh lagi.
Namun kali itu Ayah dan Ibu tampak lebih tenang melepas kepergianku. Mereka tahu aku sudah mulai mengerti cara menjaga diri. Aku pun merasa hidupku sedang berada di masa paling indah.
Aku mengikuti banyak kegiatan.
Organisasi. Kajian. Kepanitiaan. Apa pun yang membuat hari-hariku terasa berarti.
Dan salah satu yang paling kusukai adalah silat.
Aku menyukai kerasnya latihan. Menyukai rasa lelah setelah tubuh dipaksa bertahan lebih lama dari biasanya. Peluh, luka kecil, dan nyeri otot terasa seperti bagian dari proses menjadi kuat.
Sampai akhirnya satu tahun berlalu.
Aku mulai dipercaya menjadi pengurus maskan. Sebuah amanah yang membuatku bangga sekaligus gelisah. Aku tahu tanggung jawab itu tidak kecil.
Karena itulah aku berpikir untuk berhenti dari silat.
Bukan karena tidak cinta, tapi karena takut tidak mampu membagi fokus.
Aku mengajak tiga temanku untuk menyampaikan keputusan itu kepada senior. Kupikir semuanya akan selesai begitu saja.
Namun malam itu senior berkata pelan,
“Kalau memang mau berhenti, ikut latihan terakhir dulu.”
Kalimat sederhana yang ternyata menjadi pintu menuju akhir hidupku.
Harusnya aku menolak.
Harusnya aku memilih kembali ke kamar.
Tapi aku datang.
Mungkin karena sungkan.
Mungkin karena terlalu menghargai senior.
Atau mungkin memang takdir sedang menungguku di sana.
Latihan malam itu terasa berbeda.
Lebih keras.
Lebih panas.
Lebih melelahkan.
Tubuh kami dihajar rasa letih tanpa banyak jeda. Nafas memburu memenuhi ruangan. Suara hentakan kaki dan benturan tubuh terdengar seperti genderang perang.
Lalu semuanya terjadi begitu cepat.
Sebuah tendangan melayang lurus ke dadaku.
Keras.
Sangat keras.
Aku kehilangan keseimbangan dan jatuh membentur lantai. Untuk sesaat aku mencoba bangkit, namun tubuhku tak lagi mau diajak bekerja sama.
Dadaku seperti berhenti berdetak.
Orang-orang mulai panik.
Suara mereka terdengar pecah dan kacau.
Namun anehnya, di tengah semua keributan itu, pikiranku justru menjadi tenang.
Aku mulai sadar ---
ini mungkin akhir hidupku.
Tujuh detik tersisa.
Dalam tujuh detik itu, hidupku berputar seperti potongan film yang dipercepat.
Aku melihat rumah.
Melihat wajah Ibu.
Melihat Ayah yang diam-diam selalu bangga padaku.
Melihat adikku yang dulu menangis ketika aku pergi belajar.
Aku melihat diriku sendiri tertawa bersama teman-teman.
Aku melihat lorong madrasah yang ramai setiap pagi.
Melihat kitab-kitab terbuka di malam hari.
Melihat mimpi-mimpi yang ternyata harus berhenti di usia muda.
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini.
Aku tidak tahu siapa yang akan paling hancur menerima kabar kematianku. Aku tidak tahu bagaimana wajah Ibu ketika mendengar anak yang dilepasnya untuk mencari ilmu ternyata pulang tanpa suara.
Aku juga tidak tahu apakah namaku akan dilupakan cepat atau lambat.
Tetapi di detik-detik terakhir itu, aku mulai memahami sesuatu—
bahwa manusia sebenarnya tidak pernah benar-benar memiliki waktu.
Kita hanya diberi kesempatan.
Dan malam itu, kesempatanku telah selesai.
Nafasku semakin pendek.
Dunia perlahan menjauh.
Namun sebelum semuanya gelap, aku sempat berbisik lirih di dalam hati:
“Ya Allah…
jika ini akhirku, maka terimalah aku dengan segala kekuranganku.”
Aku memang belum menjadi manusia terbaik.
Masih banyak dosa.
Masih banyak mimpi yang belum selesai.
Namun bukankah setiap manusia selalu pulang sebelum sempat merasa siap?
Selamat tinggal, dunia.
Tolong sampaikan kepada Ibu bahwa anaknya sudah berusaha menjadi kuat. Sampaikan kepada Ayah bahwa semua nasihatnya masih kuingat. Dan kepada adikku ---
maaf karena aku pulang lebih cepat dari janji yang pernah kuberikan.
Lalu setelah tujuh detik terakhir itu berlalu ---
semuanya sunyi.
Salam hangat dari semua teman teman Refaloria.
