Anak seorang petani, yang mungkin kelak akan kembali menjadi petani.
Lahir nun jauh di lereng Gunung Rinjani,
sebuah tempat yang sunyi, namun tepat untuk merenung dan meniti diri.
Di sinilah tempatku menuangkan sedikit hasil dari renungan itu. Entah kamu yang membacanya akan merasa rugi atau beruntung, waktu yang akan menjawabnya.
Aku hanya ingin mengingatkan, zaman ini seolah telah kehilangan aksaranya. Teknologi berbasis visual perlahan menggantikan kedalaman proses susastra, mungkin karena tradisi lisan memang lahir lebih dulu daripada tulisan, dan kini kita sedang bergerak kembali ke era itu.
Sebab itulah aku ingin tampil sedikit berbeda. Setiap tulisan di laman ini murni lahir dari olah pikir, penelusuran literatur, dan proses perenungan mandiri. Tanpa campur tangan AI, tanpa penyuntingan instan, dan tanpa copypaste, agar setiap kata yang tersaji tetap berkualitas serta bermanfaat.
Salam hangat dariku. Semoga kamu dapat menikmati setiap jengkal tulisan di setiap lembar laman ini.
~ Malik (Anak Petani, sulung dari 3 bersaudara)
Komentar
Posting Komentar