Menu Close

JIKA TUHAN TIDAK ADA (Lanjutan Teis atau Ateis)

Tulisan sebelumnya (Baca Disini) membahas tentang teis dan ateis. Setelah memikirkan kembali berbagai argumen dari kedua sisi, saya sampai pada satu pertanyaan yang cukup mengganggu:

Bagaimana jika Tuhan benar-benar tidak ada?

Pertanyaan ini bukan bentuk penolakan terhadap Tuhan, melainkan usaha untuk melihat persoalan dari arah yang berbeda. Sebab terkadang suatu keyakinan justru lebih terlihat ketika kita mencoba membayangkan ketiadaannya.

Jika Tuhan tidak ada, maka alam semesta ini hadir begitu saja. Tidak ada tujuan yang mendahuluinya, tidak ada kehendak yang melatarinya, dan tidak ada makna yang melekat secara objektif di dalamnya. Segala sesuatu hanya terjadi karena serangkaian kemungkinan yang kebetulan bertemu pada waktu yang tepat.

Secara logis, kemungkinan itu bisa saja diterima. Namun semakin jauh saya memikirkannya, semakin muncul pertanyaan lain yang tidak kalah sulit.

Mengapa sesuatu ada daripada tidak ada sama sekali?

Mengapa hukum-hukum alam begitu teratur?

Mengapa kesadaran bisa muncul dari kumpulan materi yang pada dasarnya tidak sadar?

Sebagian orang menjawab bahwa semua itu akan dijelaskan oleh sains. Dan memang, sains telah menjelaskan banyak hal yang dahulu dianggap misteri. Namun sains menjelaskan bagaimana sesuatu bekerja, bukan selalu mengapa sesuatu itu ada.

Mungkin di sinilah letak batas yang sering kali membuat perdebatan tidak pernah selesai.

Ateis menuntut bukti keberadaan Tuhan, sementara teis melihat keberadaan alam semesta itu sendiri sebagai salah satu alasan untuk mempercayai adanya sesuatu yang lebih besar dari manusia.

Saya memahami keduanya.

Saya memahami mengapa seseorang sulit percaya pada sesuatu yang tidak dapat dilihat secara langsung. Namun saya juga mulai memahami mengapa banyak orang merasa bahwa keberadaan ini terlalu kompleks untuk dianggap sekadar kebetulan tanpa arah.

Bukan berarti saya memiliki bukti mutlak.

Justru sebaliknya.

Semakin banyak saya berpikir, semakin saya menyadari bahwa manusia tidak berada pada posisi yang memungkinkan untuk mengetahui segalanya. Ada begitu banyak hal yang masih berada di luar jangkauan pengetahuan kita.

Dan mungkin karena itulah saya sedikit lebih condong pada kemungkinan bahwa Tuhan memang ada.

Bukan karena saya telah menemukan jawaban untuk semua pertanyaan.

Melainkan karena keberadaan Tuhan, setidaknya bagi saya, terasa lebih mampu menjelaskan mengapa segala sesuatu ini ada dibandingkan keyakinan bahwa semuanya muncul tanpa sebab yang melampaui dirinya sendiri.

Tentu saja ini tidak menutup kemungkinan bahwa saya bisa salah.

Namun sampai hari ini, jika saya harus memilih di antara dua ketidakpastian, saya lebih dekat pada keyakinan bahwa di balik alam semesta yang begitu luas, ada sesuatu yang lebih besar daripada sekadar kebetulan.

Dan mungkin, pencarian manusia terhadap Tuhan tidak selalu lahir karena kita takut pada ketiadaan.

Bisa jadi justru karena kita terus-menerus menemukan tanda-tanda yang membuat ketiadaan itu terasa terlalu sederhana untuk menjelaskan segalanya.



Komentar
☕ Need a cup of Coffee

Suka dengan tulisan ini?

Dukungan kecilmu sangat berarti bagi penulis

Buy Me a Coffee at Trakteer

Terima kasih atas dukungannya ❤️