Pemikiran Orang Puasa
Kata orang pintar, cara berpikir akan lebih kritis saat sedang lapar. Mungkin itu yang sedang dirasakan oleh orang-orang yang berpuasa. Di bulan ketika banyak muslim dan muslimah menjaga diri dari berbagai tingkah perilaku, layangan kritik pedas, sarkas, dan sindiran tetap bertebaran bebas di media sosial raya.
Karena pemikiran orang puasa ini makin tajam, makin terbukalah mata kita untuk melihat kebodohan.
Dan ketika mata itu terbuka, yang terlihat bukan hanya percakapan receh di media sosial, melainkan kebijakan, keputusan, dan arah pembangunan yang terasa semakin jauh dari realitas rakyatnya.
Puasa melatih manusia untuk menahan diri. Namun ia juga melatih kejernihan melihat ketimpangan. Saat kita merasakan lapar, kita lebih mudah memahami bagaimana harga bahan pokok yang naik bukan sekadar angka statistik, melainkan beban nyata di meja makan keluarga. Ketika anggaran diperdebatkan di ruang rapat berpendingin udara, rakyat menghitung recehan untuk berbuka.
Di sinilah kritik menjadi relevan.
Pemerintah sering berbicara tentang stabilitas, pertumbuhan, dan optimisme. Namun di lapangan, yang dirasakan sebagian masyarakat adalah ketidakpastian kerja, biaya hidup yang merangkak naik, dan kebijakan yang terasa terburu-buru. Transparansi sering digembar-gemborkan, tetapi akses terhadap informasi penting masih terasa terbatas atau sulit dipahami publik awam.
Bukan berarti semua kebijakan salah. Namun kritik muncul ketika komunikasi publik tidak sebanding dengan dampak kebijakan itu sendiri. Ketika keputusan besar diambil tanpa dialog yang cukup, masyarakat hanya menjadi penerima akibat, bukan bagian dari proses.
Otak yang kritis tidak lahir dari kebencian, tetapi dari kepedulian. Justru karena peduli, kita mempertanyakan. Justru karena ingin negara ini maju, kita menuntut akuntabilitas.
Ramadan sering disebut bulan refleksi. Maka refleksi itu tidak hanya untuk individu, tetapi juga untuk para pemegang kuasa. Apakah kebijakan benar-benar berpihak pada yang lemah? Apakah suara rakyat benar-benar didengar, atau hanya dijadikan angka dalam survei?
Mengkritik pemerintah bukan berarti anti-negara. Demokrasi hidup dari partisipasi. Tanpa kritik, kekuasaan mudah merasa dirinya selalu benar. Dan sejarah menunjukkan, kekuasaan yang tidak pernah dikoreksi cenderung menjauh dari rakyatnya.
Jika lapar membuat pikiran lebih tajam, maka ketajaman itu seharusnya digunakan untuk membaca arah bangsa dengan lebih jernih. Bukan untuk mencaci, tetapi untuk mengawasi. Bukan untuk memecah, tetapi untuk menuntut perbaikan.
Tentu tidak semua orang menjadi lebih jernih saat lapar. Ada juga yang justru menjadi lebih sensitif, lebih mudah marah, dan lebih cepat tersinggung. Maka mungkin bukan laparnya yang menentukan, tetapi kedewasaannya.
Karena pada akhirnya, negara bukan milik segelintir orang di atas. Ia milik mereka yang setiap hari berjuang di bawah, termasuk mereka yang hari ini berpuasa, menahan lapar, sambil berharap keadaan esok lebih adil daripada hari ini.
.png)