Indonesiaku
Katanya Indonesia ini kaya. Katanya tanahnya subur. Katanya lautnya luas. Katanya masa depannya cerah. Tapi entah kenapa, yang sering terasa justru sekolah yang kurang diperhatikan, puskesmas yang seadanya, dan rapat-rapat yang kebanyakan omon-omon. Kita sesibuk itu bikin slogan dan pamer, tapi lupa ngurus hal yang dasar.
Pendidikan masih sering jadi bahan pidato, bukan bahan perbaikan. Sekolah di kota mungkin sudah lumayan, tapi yang di pelosok? Guru kurang, fasilitas minim, muridnya disuruh semangat tapi bukunya saja bekas tiga angkatan. Kesehatan juga begitu. Kalau sakit ringan mungkin bisa ditangani, tapi kalau sudah parah, rakyat kecil sering bingung mau ke mana-akhirnya alternatifnya dukun, terus nanti bilang indonesia gak maju karena masih percaya mistis. Katanya negara hadir, tapi yang terasa malah rakyat disuruh sabar terus. Sabar, sabar, sabar. Lama-lama capek juga, bang (kayak nunggu dia).
DPR katanya wakil rakyat. Tapi kadang yang diwakili seperti bukan rakyat, melainkan kepentingan yang entah dari mana. Sidang ramai, berita ramai, tapi hasil nyatanya sering sunyi. Harusnya lebih merakyat, lebih turun ke bawah, lebih ngerti apa yang benar-benar dibutuhkan orang biasa. Bukan cuma debat di ruangan ber-AC sambil minum kopi mahal (15 ribu itu mahal yaa). Rakyat butuh kerja nyata, bukan janji manis yang diulang-ulang sampai basi.
Proyek pembangunan juga kadang terlalu dipaksakan seolah-olah harus terlihat megah. Padahal, mungkin yang lebih mendesak bukan gedung tinggi atau proyek besar yang bikin bangga di foto, tapi proyek penyejahteraan semacam sekolah layak, rumah sakit memadai, air bersih, jalan desa yang rapi, bantuan yang benar-benar sampai. Kurangi dulu proyek yang cuma kelihatan keren. Sejahterakan dulu manusianya. Nanti kalau rakyatnya sudah kuat, pembangunan besar juga akan ikut kebangun dengan sendirinya.
Soal nyawit juga begitu. Sawit memang penting, boleh, tapi jangan sampai semuanya disikat habis. Hutan hilang, tanah rusak, orang kampung kehilangan ruang hidup. Jangan sampai kita kaya di angka statistik, tapi miskin udara bersih dan air jernih. Kadang rasanya seperti serakah yang dibungkus kata “pembangunan”(aww).
Dan yang paling menyedihkan, pernah ada anak yang mengakhiri hidupnya karena tidak bisa beli buku dan pulpen seharga 10 ribu. Itu seharusnya jadi tamparan keras, bahwa ada orang-orang yang tak punya, tak di dengar, tak dianggap, tak punya harapan. Jangan sampai negeri ini mengulanginya kembali.
Indonesia tidak butuh terlalu banyak pidato keren. Tidak butuh terlalu banyak gaya. Yang dibutuhkan itu perhatian serius ke pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan kerja nyata dari orang-orang yang katanya mewakili kita. Kurangi bacot, perbanyak tindakan. Karena rakyat sudah cukup lama disuruh percaya. Sekarang saatnya dibuktikan, bukan cuma dikatakan.
