Pilihan (Puisi)
Tatapannya jeli.
Bulu matanya lentik.
Senyumnya tajam mengancam.
Wanginya semerbak, menusuk hidung.
Tubuhnya begitu proporsional.
Singkat katanya cantik.
Seketika jantungku seperti berhenti
selama lima detik.
Bulu kudukku berdiri,
tanganku gemetar.
Singkat katanya tertarik.
Lalu ia mulai bicara
fasih, tenang, penuh retorika.
Kata-katanya tertata rapi
seperti orang yang terbiasa memenangkan banyak kepala.
Singkat katanya pintar.
Mataku dan hatiku saling diadu
oleh kecantikan dan kecerdasan.
Aku mabuk seketika.
Namun, tidak semua yang memikat
harus dimiliki.
Tidak semua yang indah
harus disentuh.
Aku bisa saja terpikat olehnya,
tetapi aku telah memilihmu.
Dan seorang lelaki tidak mengkhianati
pilihan yang ia perjuangkan sendiri.
"Dan tetap, rumahku adalah kamu.”
~ bagian dari "31 Hari Tanpa Siang"
.png)