Tertusuk beling di kaki,  

tersayat belati di hati,  

kepala pecah dihantam batu,  

badan remuk, terbungkus belacu.


Tapi sakit hanyalah sakit,  

kuharap tak berarti apa-apa.  

Perih pun hanyalah perih,  

kuharap tak menyisakan apa-apa.


Kecewa hanyalah kecewa,  

dan aku tak bisa berbuat apa-apa.  

Sebab rindu, entah bagaimana,  

selalu berhasil mengalahkan segalanya.


Kepala gaduh, malam membisu,  

segala yang lalu enggan berlalu.  

Sudah kucoba mengubur rindu,  

malah aku yang terkubur waktu.


Ah, sudahlah.  

Aku lelah berpura-pura biasa saja.  

Jika memang tak ada yang bisa kuubah,  

biarlah malam menjadi saksi  

bahwa kali ini,  

aku hanya sedang sedih.