Ada banyak hal yang rela kita lakukan demi mempertahankan streak. Membuka sosmed setiap hari, saling mengirim video yang kadang bahkan tidak ditonton sampai habis, atau mengingatkan teman dengan pesan penuh urgensi, “WOI, STREAK KITA!”
Entah sejak kapan api kecil di layar ponsel bisa menjadi sesuatu yang begitu penting. Barangkali karena manusia memang menyukai sesuatu yang bertahan. Apalagi jika sesuatu itu menjadi penanda bahwa hubungan masih terjaga, meskipun percakapan sehari-hari sudah semakin jarang. Setidaknya, masih ada video kucing yang dikirim setiap malam.
Kadang streak memang cukup baik untuk dipertahankan karena dapat menjadi bentuk silaturahmi yang sederhana. Namun, ada juga streak yang sepantasnya harus cepat kita padamkan. Bukan streak dengan mantan, tapi streak yang bumi buat di Kalimantan.
Sebab, saat sebagian dari kita sibuk menjaga api kecil di layar, Kalimantan justru sedang menghadapi persoalan dengan api yang sesungguhnya.
Kebakaran hutan dan lahan kembali menjadi perhatian serius di Indonesia. Berdasarkan pemantauan Kementerian Kehutanan pada 12 Oktober 2026, terdeteksi 227 titik panas berkepercayaan tinggi di Kalimantan Tengah, meningkat dari 74 titik sehari sebelumnya. Kalimantan Selatan juga mencatat 113 titik, naik dari 15 titik pada hari sebelumnya.
Memang, titik panas yang terdeteksi satelit tidak serta-merta berarti setiap titik merupakan kebakaran yang telah terkonfirmasi. Namun, peningkatan tersebut cukup untuk menunjukkan bahwa situasinya perlu diwaspadai.
Kalau saja istilah streak bisa digunakan untuk segala sesuatu yang berulang, barangkali bumi sedang memperoleh pencapaiannya sendiri. Hari demi hari, ada saja kabar tentang kebakaran, asap, atau lahan yang terdampak. Bedanya, tidak ada emoji api yang perlu dikirim untuk menjaga rentetan itu tetap hidup. Cuaca kering, kondisi lahan, dan aktivitas manusia dapat membuat api menyala tanpa perlu menunggu siapa pun membalas pesan.
Lucu memang, kalau tidak mengingat akibatnya.
Di media sosial, api menjadi simbol kedekatan. Ia menandakan bahwa dua orang masih saling terhubung, masih menyempatkan diri untuk hadir dalam keseharian satu sama lain. Sementara itu, di hutan, api dapat memutus hubungan yang jauh lebih tua, hubungan antara pohon dan tanah, satwa dan habitatnya, serta manusia dan lingkungan yang menopang kehidupannya.
Asap tidak mengenal fitur close friends. Ia tidak berhenti pada batas unggahan atau lingkaran pertemanan. Ketika kebakaran meluas, udara tercemar, kesehatan masyarakat terganggu, dan aktivitas sehari-hari dapat terhambat. Dampaknya bahkan bisa menjalar ke wilayah lain.
Laporan Reuters pada 15 Oktober 2026 mencatat bahwa kebakaran hutan dan lahan di Indonesia telah memperburuk kabut asap di sejumlah wilayah Asia Tenggara. Kondisi panas dan kering akibat El NiƱo turut mempercepat penyebaran api, terutama di kawasan hutan dan lahan gambut. Dengan kata lain, ini bukan sekadar perkara pepohonan yang terbakar, melainkan persoalan yang menyentuh kehidupan manusia lintas wilayah.
Namun, menyebut cuaca sebagai penyebab bukan berarti kita boleh berhenti bertanya tentang peran manusia.
Pembukaan lahan dengan cara membakar, kerusakan hutan, dan pengelolaan lahan gambut yang buruk merupakan bagian dari persoalan yang perlu ditangani. Ketika lahan mengering dan api terlanjur menyebar, pemadaman menjadi jauh lebih sulit. Karena itu, upaya mengatasi karhutla semestinya tidak berhenti pada pemadaman, tetapi juga mencakup pencegahan, pemulihan ekosistem, pengawasan, dan penegakan hukum.
Sayangnya, bencana lingkungan sering kali hanya ramai ketika asap mulai terlihat atau ketika foto-foto hutan terbakar memenuhi linimasa. Kita membicarakannya selama beberapa hari, membagikan kabar yang lewat di beranda, lalu perlahan kembali pada rutinitas semula. Ketika perhatian beralih, persoalannya belum tentu selesai.
Mungkin di sinilah letak ironi yang sebenarnya. Kita hidup pada zaman ketika mempertahankan rentetan pesan terasa seperti tanggung jawab kecil yang tidak boleh terlewat, tetapi mempertahankan perhatian terhadap persoalan lingkungan justru terasa jauh lebih melelahkan. Kita takut kehilangan angka di layar, tetapi terkadang begitu mudah kehilangan kepekaan terhadap sesuatu yang sedang terjadi di luar layar.
Tentu, menjaga streak bersama teman bukanlah sesuatu yang salah. Silaturahmi, sekecil apa pun bentuknya, tetap berharga. Begitu pula humor di tengah kehidupan digital yang terkadang terlalu serius. Namun, kita juga perlu tahu bahwa ada hal-hal yang tidak semestinya dinormalisasi hanya karena terlalu sering terjadi.
Jika streak di sosmed bisa putus ketika seseorang lupa mengirim video, semestinya rentetan kebakaran juga tidak dibiarkan berulang sampai kita menganggapnya sebagai bagian biasa dari pergantian musim.
Bumi tidak membutuhkan kita untuk mengirim video setiap hari agar tetap hidup. Ia membutuhkan hutan yang terjaga, lahan yang dikelola dengan bertanggung jawab, dan manusia yang bersedia memperbaiki cara mereka memperlakukannya.
Jadi, silakan pertahankan streak yang membuat hubungan antarmanusia tetap terjaga. Kirimkan video lucu, tanyakan kabar teman, atau hadir dalam keseharian orang-orang yang berarti bagi kita.
Namun, untuk streak yang satu ini, rasanya kita sepakat jangan dipertahankan.
Sebab, ada api yang membuat dua orang tetap terhubung, dan ada api yang justru mengancam kehidupan. Kita seharusnya cukup bijak untuk mengetahui mana yang patut dijaga dan mana yang harus segera dipadamkan.
Bumi lagi bikin streak. Jangan sampai kita baru peduli ketika apinya sudah sampai di beranda kita sendiri.

Komentar
Posting Komentar