[1]
Permainan kata demi permainan kata akhirnya membuatku malas menjadi manusia. Maka biarlah kata-kata itu tumbuh sendiri, menjulang tinggi bak pohon yang lupa siapa yang menanamnya. Aku akan memanjat naik, mencari dahan yang cukup kuat untuk menampung kesia-siaanku, lalu bersarang di antara daun-daunnya seperti seekor burung yang kehilangan sarangnya, di ketapel bocah tadi sore.Jika kelak ulat-ulat datang dan memenuhi tubuhku, biarkan saja. Barangkali mereka lebih tahu cara membaca manusia daripada diriku sendiri. Mereka akan memakan sedikit demi sedikit, bukan karena benci, melainkan karena lapar, dan bukankah sebagian besar kehancuran di dunia memang bermula dari sesuatu yang lapar?
Sampai akhirnya aku membusuk.
Dari kebusukan itu, biarlah lahir ulat-ulat baru. Para burung akan datang, mematuk mereka dengan penuh syukur, seolah-olah kematianku memang sejak awal disediakan sebagai hidangan.
Lalu ulat-ulat yang tersisa akan mengurung dirinya dalam kepompong. Mereka akan tidur cukup lama untuk melupakan bahwa dahulu mereka adalah ulat, kemudian bangun sebagai kupu-kupu dan terbang membawa pertanyaan yang tak pernah sempat kujawab,
Apakah perubahan benar-benar berarti menjadi sesuatu yang lain, atau hanya cara alam membuat kehancuran terlihat indah?
Sementara itu, tulang-tulangku akan jatuh satu per satu ke tanah.
Tak ada yang perlu mengenang.
Anjing-anjing akan datang, menggigitnya, berlari menjauh, lalu menguburnya entah di mana. Setidaknya mereka setia kepada tuannya, meski mereka tak pernah tahu bahwa tulang yang mereka jadikan mainan pernah menjadi rumah bagi seseorang yang terlalu banyak berpikir tentang arti menjadi manusia.
Dan mungkin, pada akhirnya, hanya itulah yang tersisa dari kita
kata-kata yang tumbuh menjadi pohon,
tubuh yang menjadi makanan,
tulang yang menjadi mainan,
dan seekor kupu-kupu yang terbang tanpa pernah tahu bahwa sayapnya tumbuh dari sesuatu yang dahulu membusuk.
[2]
Terlena..
Tidak sadar t'lah jam satu dini hari
Belum tidur,
Menikmati proses berpikir atau
mungkin,
Imsomnia,
tidak yakin dengan itu
Kita nadakan saja
Berpuisi, bersajak, bermonolog malam malam
Sendiri, berdua.
Bersama ego, emosi, baik dan buruk.
Tertawa didalam pikiran
Dalam tulisan yang tidak beraturan
[3]
Tinggi bicara, rendah karya,
gemar mencela, miskin makna.
Dunia tak runtuh oleh suara,
melainkan oleh kosongnya jiwa.
Kau lempar batu dari singgasana,
merasa suci tanpa cela.
Padahal retak paling berbahaya,
sering bersembunyi di balik mahkota.
Jangan bangga karena dipuja,
tepuk tangan mudah tercipta.
Yang tetap tegak saat semua sirna,
itulah harga seorang manusia.
Api amarah kau pelihara,
lalu menyebutnya cahaya.
Padahal yang hangus pertama,
selalu hatimu yang terluka.
[4]
Begini ...
Tadi pagi anak itu mati ...
Terenyuk aku dengan yang terjadi,
Pasal dia makan nasi basi,
Diberi ayahnya sendiri.
Mati ...
'kan ditelan bumi
Tapi ..
Apa boleh jadi
Memang harus dijalani
Tuk tenangkan diri
Di alam sana, dibawah tanah nan sepi
Lelah sudah ia berjalan, sendiri
[5]
mencekik diri kelaparan di negara sendiri,
mencabik diri kehausan di republik ini,
menyayat nyayat kulit diri ini untuk ibu pertiwi,
bunuh diri sendiri untuk kesendirian yang menyedihkan dan menenangkan hanya seorang diri.
Komentar
Posting Komentar