mimpi
dunia itu seakan mustahil menjadi nyata,
namun merawat ingatannya kerap menyisakan duka.
ada rindu yang ganjil pada sebuah keabsurdan,
rindu pada sosok-sosok yang singgah di sana,
bahkan ketika eksistensinya menghadirkan gulita,
sebab aura pekatnya tak setara dengan yang ada disini.
pernah kujejakkan kaki di padang yang begitu luasnya,
dimekarkan bunga-bunga ajaib yang bumi tak kenali.
serasa melangkah di ambang firdaus,
disambut sosok putih yang tertawa,
melingkari jemariku dengan kehangatan yang asing.
namun perlahan, kehangatan itu mendingin menjadi cengkeraman,
tawa gembira bergeser menjadi rintihan yang menyayat,
dan langit firdaus runtuh berganti kelam.
dari balik bayang-bayang, sosok gelap itu melangkah maju,
menghantamkan palu besi mahaberat,
meremukkan setiap senti tulang-tulangku hingga hancur berkeping.
ironisnya, saat mataku terbuka dari kedua alam itu,
hanya jiwa yang pilu dan kesunyian mendalam yang tersisa.
dunia seketika meluruh, menjadi hampa dan tak berharga.
lalu, bagaimana kelak tatkala napas benar-benar terhenti?
penyesalan atau kerinduan apa yang akan tersisa untuk dunia?
di tengah keriuhan bumi saja, sepi kerap mencengkeram begitu erat,
terlebih kelak, tatkala diri terbaring dalam kubur yang gelap dan senyap.
kini aku terjebak di persimpangan malam...
aku gentar pada keindahan mimpi,
aku teror oleh kengerian mimpi,
namun aku jauh lebih takut jika lelapku tak lagi disapa bayang apa pun.
Komentar
Posting Komentar