Sebelumnya, tulisan ini hanya opini yang bersifat subjektif dan tidak dapat dijadikan preferensi untuk semua orang.

Setiap kali bencana alam merenggut ribuan nyawa, anak-anak kelaparan di wilayah konflik, atau kejahatan kemanusiaan lewat di timeline media sosial kita, satu pertanyaan filosofis paling tua akan kembali mencuat. Pertanyaan ini sering kali membuat banyak anak muda merasa logikanya mentok, lalu memilih bersikap skeptis, agnostik, atau bahkan ateis karena merasa agama gagal memberikan jawaban yang masuk akal.

Untuk menyimpulkan dan menjawab pertanyaan besar ini, setidaknya ada 4 poin penting yang harus dibaca dan dipahami secara utuh terlebih dahulu:

Jebakan Logika Biner 

Filsuf Yunani kuno, Epicurus, merumuskan paradoks yang seolah mematikan. Jika Tuhan ingin mencegah kejahatan tapi Ia tidak mampu, berarti Dia tidak Maha Kuasa. Jika Dia mampu tapi tidak mau, berarti Dia sadis. Jika Dia mampu dan mau, lalu dari mana datangnya semua kekacauan ini? Logika biner ini sering membuat penganut agama mati kutu. Namun ternyata jebakannya ada pada arogansi rasio seorang manusia. Kita berasumsi bahwa kapasitas otak kita cukup untuk mengaudit kalkulasi kosmik Sang Pencipta, menuntut penjelasan matematis dari entitas yang menciptakan ruang, waktu, dan logika itu sendiri.

Salah Alamat Menuntut Utopis 

Krisis iman sering kali lahir dari ekspektasi yang salah tempat. Banyak yang menuntut dunia ini beroperasi secara utopis. Harus selalu adil, damai, bebas rasa sakit, dan bahagia selamanya. Ketika realitas bumi berdarah-darah, konsep Tuhan yang dijadikan kambing hitam. Secara filosofis, Islam memandang dunia murni sebagai Darul Ibtila (ruang ujian), bukan Darul Jaza' (ruang pembalasan atau surga). Mengharapkan dunia berjalan sempurna tanpa penderitaan sama absurdnya dengan masuk ke ruang ujian sekolah tapi menuntut disediakan kasur empuk dan camilan. Penderitaan dan rasa sakit ada karena desain utama dunia ini memang untuk menguji kualitas manusia, bukan memanjakannya.

Harga Mahal Sebuah Kehendak Bebas 

Mayoritas penderitaan eksistensial di dunia mulai dari perang, genosida, kelaparan sistemik, penindasan, bukanlah intervensi langsung dari langit, melainkan murni hasil karya tangan manusia. Manusia diberikan privilese paling radikal dan berbahaya yang membedakannya dari entitas lain yakni kehendak bebas (free will). Jika Tuhan selalu turun tangan mencabut kehendak bebas setiap kali manusia mau berbuat jahat misalnya pelatuk senjata tiba-tiba macet atau tangan koruptor mendadak lumpuh, maka kita tidak lebih dari sekadar robot biologis yang diprogram. Kekacauan di dunia adalah harga mahal dari kebebasan memilih tersebut. Keadilan Tuhan tidak selalu berarti mencegah sebuah kejahatan terjadi hari ini, melainkan memberikan jaminan absolut bahwa tidak ada satu pun kejahatan yang lolos dari audit pengadilan akhir kelak.

Menilai Lukisan Raksasa dari Lubang Kunci 

Kebaikan Tuhan tidak selalu harus berwujud kenyamanan instan di mata kita, karena manusia memiliki keterbatasan optik yang parah. Kisah Nabi Musa dan Khidir dalam tradisi Islam adalah metafora filosofis terbaik untuk ini. Musa memprotes keras tindakan Khidir yang dengan sengaja melubangi perahu nelayan miskin, sebuah tindakan yang di mata rasio manusia tampak murni sebagai vandalisme dan kejahatan. Padahal, di balik layar kosmik yang tak terlihat oleh Musa, tindakan "jahat" itu justru menyelamatkan perahu tersebut dari perampasan penguasa lalim. Kita terlalu sering menghakimi keadilan Tuhan hanya dengan mengintip dari lubang kunci sejarah, padahal Dia sedang menenun lukisan raksasa sebab-akibat yang dimensinya tidak akan pernah muat di dalam batasan rasio kita saat ini.

Saat dunia sedang tidak baik-baik saja dan logikamu menuntut penjelasan instan untuk memuaskan ego, apakah kamu akan memilih berhenti pada sinisme yang buntu, atau berani mengakui bahwa ada kebijaksanaan kosmik yang memang belum sampai pada level kapasitas akalmu?